BeritaTanjungpinang

Kisah Andi Ampa Djaya, Anak Perantau Bugis yang Kini Harumkan Nama Kepri

20
×

Kisah Andi Ampa Djaya, Anak Perantau Bugis yang Kini Harumkan Nama Kepri

Share this article
Andi Ampa Djaya Mahasiwa UMRAH. F-dok

TANJUNGPINANG – Di usianya yang baru 19 tahun, Andi Ampa Djaya sudah menorehkan prestasi yang membuat banyak orang kagum. Mahasiswa semester 2 Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) itu berhasil dua kali mengharumkan nama kampus dan daerah di tingkat nasional maupun provinsi.

Terbaru, Andi sukses meraih Juara II Putra Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Kepulauan Riau 2026. Sebelumnya, ia juga pernah keluar sebagai Juara I lomba berbalas pantun tingkat nasional kategori pelajar.

Di balik sederet prestasinya, Andi ternyata lahir dari keluarga sederhana perantau Bugis asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Pemuda kelahiran Tanjungpinang, 21 Februari 2007 itu merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, seluruhnya laki-laki.

Ayahnya bernama Ambo Essa dan ibunya Andi Nurhawa. Keduanya merantau ke Tanjungpinang dari Sulawesi Selatan saat kondisi keluarga sedang mengalami persoalan di kampung halaman.

Kala itu, sang ibu sedang hamil tua delapan bulan ketika memutuskan ikut merantau ke Kepulauan Riau bersama suaminya. Tak lama setelah tiba di Tanjungpinang, Andi Ampa Djaya lahir.

Meski lahir di Tanjungpinang, Andi lebih banyak tumbuh besar dan menempuh pendidikan di Kabupaten Bintan. Kini, keluarganya tinggal di Kota Tanjungpinang.

Meski berasal dari keluarga sederhana, kedua orang tuanya memiliki perhatian besar terhadap pendidikan. Ambo Essa dan Andi Nurhawa yang berpendidikan Diploma III (D3) tidak ingin anak-anak mereka mengalami keterbatasan pendidikan seperti generasi sebelumnya di keluarga mereka.

Karena itu, sejak kecil Andi disekolahkan di lingkungan pendidikan agama. Perjalanan pendidikannya dimulai di SDIT Al-Azhar Bintan, kemudian melanjutkan ke MTs dan MAN di Kabupaten Bintan.

Selama sekolah, Andi dikenal sebagai siswa berprestasi. Hampir setiap semester ia selalu meraih peringkat pertama, paling rendah peringkat kedua.

Juara 1 Kompetisi bahasa arab nasional tingkat kabupaten.

Bukan hanya unggul di kelas, Andi juga aktif mengikuti berbagai perlombaan. Salah satu prestasi yang paling diingat adalah ketika dirinya menjuarai Kompetisi Bahasa Arab Nasional (Kombanas) tingkat Kabupaten Bintan saat duduk di bangku MTs. Kemenangan itu membawanya ke tingkat provinsi, dan lagi-lagi ia berhasil keluar sebagai juara pertama.

Kemampuan Andi di bidang agama juga terlihat sejak remaja. Suaranya yang merdu membuatnya dipercaya membaca tilawah di masjid-masjid. Dari sana, ia mulai mendapatkan honor setiap tampil.

Tak hanya itu, Andi juga dipercaya menjadi penceramah dan pelatih hadroh bagi ibu-ibu majelis taklim hingga remaja di lingkungannya. Dari aktivitas itulah ia mulai mengumpulkan honor sedikit demi sedikit.

“Pengurus masjid sering bilang anak ini pintar dan punya kemampuan,” cerita keluarganya.

Yang membuat banyak orang lebih kagum, kemampuan bahasa Inggris Andi ternyata dipelajari secara otodidak. Tanpa kursus dan tanpa les mahal, ia belajar sendiri hanya melalui telepon genggamnya.

Orang tuanya bahkan mengaku heran melihat kemampuan sang anak yang bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar, padahal sejak kecil lebih banyak menempuh pendidikan agama.

Tak hanya bahasa Inggris, Andi juga dikenal mampu berbahasa Arab dan sedikit menguasai bahasa Spanyol. Ia aktif berdakwah, dipercaya menjadi imam salat, hingga mahir bermain gitar.

Meski memiliki banyak kemampuan, Andi dikenal sebagai sosok pendiam dan tidak suka menyombongkan diri. Sikap rendah hatinya bahkan sempat membuat dosen di kampus terkejut.

Kisah itu terjadi saat awal dirinya masuk kuliah di Universitas Maritim Raja Ali Haji. Ketika proses perkenalan mahasiswa baru di kelas, dosen sempat bertanya apakah ada mahasiswa yang pandai berpantun dan mau ikut lomba pantun tingkat nasional. Saat itu Andi hanya diam.

Namun ketika diminta maju memperkenalkan diri di depan kelas, Andi justru membuka perkenalannya dengan sebuah pantun spontan.

Karena penasaran, dosen kemudian menguji kemampuan Andi dengan berbalas pantun bersama orang lain yang dikenal pandai. Tak disangka, kemampuan Andi membuat orang kagum.

Juara 1 lomba pantun tingkat nasional pelajar.

Dari situlah Andi kemudian ditunjuk mewakili kampus mengikuti lomba pantun tingkat nasional. Kesempatan itu berhasil ia jawab dengan prestasi membanggakan setelah keluar sebagai juara pertama tingkat nasional.

Setelah lulus dari MAN dengan nilai rata-rata di atas 9, Andi sebenarnya sempat mendapatkan kesempatan besar. Ia diterima melalui program beasiswa di tiga kampus internasional luar negeri.

Namun kondisi ekonomi keluarga menjadi hambatan. Meski biaya kuliah ditanggung, orang tuanya khawatir dengan biaya hidup dan tempat tinggal selama di luar negeri.

Karena keterbatasan ekonomi, orang tua Andi sempat meminta anaknya untuk menunda kuliah. Namun Andi tidak menyerah.

Diam-diam, Andi mendaftarkan dirinya sendiri ke Universitas Maritim Raja Ali Haji melalui jalur beasiswa prestasi menggunakan uang hasil honor yang ia kumpulkan sebagai penceramah dan pelatih hadroh.

Setelah dinyatakan diterima, barulah ia memberitahukan kepada kedua orang tuanya.

Dengan penuh keyakinan, Andi meyakinkan keluarganya bahwa dirinya mampu terus belajar dan berprestasi meski dengan segala keterbatasan.

Kini, baru memasuki semester 2, namanya sudah mulai dikenal luas sebagai salah satu mahasiswa berprestasi di Kepulauan Riau.

Bagi Andi, prestasi bukan sekadar soal piala dan penghargaan. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

“Saya percaya setiap anak punya kesempatan untuk berhasil, walaupun lahir dari keluarga sederhana. Jangan pernah malu dengan keadaan ekonomi orang tua, karena yang menentukan masa depan itu bukan kita lahir dari mana, tapi seberapa kuat kita mau belajar dan berjuang,” ujar Andi.

Ia mengaku semua yang diraihnya saat ini berasal dari proses belajar yang panjang dan konsisten.

“Saya belajar bahasa Inggris dari HP, sekolah di sekolah agama, dan tetap bisa bersaing. Jadi jangan takut bermimpi besar. Selama kita mau berusaha dan terus belajar, pasti ada jalan,” katanya.

Kini, Andi bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga mulai menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di Kepulauan Riau bahwa mimpi besar tetap bisa diraih meski berasal dari keterbatasan.