Berita

Pinisi Kakek Karam Diamuk Badai, Kini Sang Cucu Jadi Syahbandar Pengatur Kapal

15
×

Pinisi Kakek Karam Diamuk Badai, Kini Sang Cucu Jadi Syahbandar Pengatur Kapal

Share this article

TAREMPA, ANAMBAS — kksskepri.com Laut bagi masyarakat yang lahir dan tumbuh di wilayah pesisir bukan sekadar bentangan air yang memisahkan pulau. Laut adalah jalan kehidupan, tempat menggantungkan harapan, sekaligus ruang untuk menguji keberanian (28/9/2026).

Kisah itu tergambar dalam perjalanan hidup Jemi Permana, putra Tarempa, Kepulauan Anambas, yang lahir pada 15 Mei 1982. Darah pelaut Bugis mengalir dalam dirinya, diwariskan dari keluarga yang sejak dahulu menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupan.

Perjalanan Jemi memiliki kaitan erat dengan kisah sang kakek, M. Yusuf, yang kemudian dikenal dengan gelar adat Daeng Mattangnga dan lebih akrab dipanggil Daeng Supuk.

Sekitar dekade 1950-an, M. Yusuf yang ketika itu masih remaja meninggalkan Salomekko, Teluk Bone, Sulawesi Selatan. Ia menumpang kapal Pinisi menuju tanah Jawa dengan harapan dapat menuntut ilmu dan membuka lembaran kehidupan baru.

Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi tragedi. Menjelang Surabaya, cuaca memburuk. Langit menghitam dan badai menghantam kapal yang dinakhodai oleh kakeknya. Pinisi tersebut akhirnya karam bersama muatan palawija yang dibawanya.

Peristiwa itu menjadi titik balik kehidupan M. Yusuf. Setelah terdampar di Jawa, ia kemudian mengembara hingga Sumatera sebelum akhirnya menetap di Kepulauan Anambas.

Di tanah rantau tersebut, ia membangun keluarga, menikah dengan perempuan keturunan Melayu-Tionghoa, dan kembali mengarungi laut sebagai pelaut. Hasil bumi Anambas dibawanya hingga ke Singapura dan Malaysia, pada masa perdagangan antarpulau masih sangat bergantung pada jalur laut.

Hingga wafat pada 2008, Daeng Supuk turut mengabdikan diri sebagai Penasehat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Kepulauan Anambas.

Jemi Permana tumbuh sebagai anak kedua dalam keluarga yang hidup di wilayah kepulauan. Sejak kecil, ia menyaksikan kerinduan sang ayah terhadap kampung halaman di Salomekko, Bone.

Kerinduan itu hadir dalam berbagai hal sederhana, termasuk makanan khas Bugis yang dibuat di rumah. Barongko, es pisang ijo, burasa’, leppe’-leppe’ hingga tapai ketan hitam menjadi bagian dari suasana keluarga, terutama saat Lebaran ketika rumah mereka ramai dikunjungi para perantau.

Sang ayah bahkan sempat lupa alamat rumah keluarganya di Salomekko. Namun, satu pesan selalu ia sampaikan kepada anak-anaknya.

“Suatu saat, ketika kepala sudah memutih atau setelah berhaji, kita akan pulang.”

Kerinduan tersebut akhirnya menemukan jalan. Melalui sebuah kapal tanker yang bersandar di Tarempa, sang ayah berkenalan dengan seorang nakhoda Bugis dan mengundangnya ke rumah.

Dari pertemuan itu, terungkap kembali jejak sejarah keluarga yang selama puluhan tahun terputus. Nakhoda tersebut ternyata merupakan tetangga dekat nenek Jemi yang menetap di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. Ia juga menjalankan usaha angkutan laut dengan tiga kapal Pinisi yang disebut sebagai warisan keluarga.

Pada 1993, keluarga Jemi akhirnya melakukan perjalanan ke Jakarta. Untuk pertama kalinya, Jemi bertemu dengan sang nenek dan tiga pamannya, yakni Daeng Mangngatta, Daeng Situruk, dan Daeng Malewa.

Pertemuan itu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Jemi. Dari sana, ia semakin memahami bahwa laut dan tradisi maritim merupakan bagian dari sejarah keluarganya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Tarempa, pada 2000 ia merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya.

Pada 2004, ia berhasil memperoleh lisensi Ahli Nautika Tingkat III (ANT-III) dan memulai karier di laut lepas dengan bekerja pada kapal-kapal supply offshore untuk industri migas.

Pengalaman di laut kemudian membawanya kembali ke daratan. Jemi pernah dipercaya menjadi Jetty Master pada sebuah perusahaan minyak asal Amerika Serikat, sembari menyelesaikan pendidikan sarjana di STMT Trisakti Jakarta.

Jalan pengabdiannya di daerah semakin terbuka ketika pada Januari 2011 ia dinyatakan lulus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan bergabung dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Anambas.

Pendidikan terus ditempuh. Jemi kembali mengikuti pendidikan di BP3IP Jakarta hingga meraih Ahli Nautika Tingkat II (ANT-II). Ia juga menyelesaikan pendidikan pascasarjana dan meraih gelar Magister Manajemen Transportasi (M.M.Tr.) dari ITL Trisakti.

Berbagai pengalaman penugasan kemudian membawanya bertugas di sejumlah wilayah, mulai dari Subi, Serasan hingga Ranai di kawasan Natuna.

Kini, Jemi Permana dipercaya sebagai Plt. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Tarempa.

Sebagai syahbandar, ia berada pada posisi yang berkaitan langsung dengan keselamatan, keamanan, ketertiban, serta kelancaran aktivitas pelayaran di wilayah kerja pelabuhan.

Bagi Jemi, perjalanan tersebut seakan menjadi satu rangkaian panjang sejarah keluarga. Sang kakek pernah kehilangan Pinisi akibat badai di tengah laut. Sementara sang cucu kini berdiri sebagai pejabat yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan dan kelancaran kapal-kapal yang berlayar di laut Anambas.

Kisah itu memperlihatkan bagaimana laut yang dahulu menjadi tempat ujian bagi leluhurnya, kini menjadi ruang pengabdian bagi generasi berikutnya.

Dalam perbincangan khusus dengan Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Kepulauan Riau, Ady Indra Pawennari, di Tanjungpinang, Jemi menyampaikan pesan yang sarat makna bagi generasi muda Anambas.

“Jangan pernah merasa kerdil karena terlahir di pulau yang jauh dari pusat benua. Laut di depan rumahmu bukan pemisah, melainkan jalan bentang yang menantangmu untuk melangkah. Pasang layar mimpimu setinggi langit, genggam kemudi hidupmu dengan sekoci ilmu, dan jadilah nakhoda yang tangguh di negerimu sendiri.”

Jika dahulu sang kakek kehilangan Pinisi dalam amukan badai, kini sang cucu berdiri sebagai Syahbandar yang mengatur perjalanan kapal di samudra yang sama.

(Red)